Menanti N219 mengudara

Saat ini dunia penerbangan Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh PT. DI (Dirgantara Indonesia) sedang dalam gairah tertingginya. Bagaimana tidak karya besar anak bangsa yang tercantum dalam sebuah pesawat N219 sudah 95% selesai, tinggal yang masih di urus adalah masalah sertifikasinya dan pencarian pilot yang berani menerbangkannya.

Jika kita melihat 20 tahun kebelakang atau 4 tahun sebelum krisis moneter membelenggu dunia termasuk Indonesia, PT. DI saat itu sudah berhasil membuat beberapa pesawat penumpang seperti N235 dan N250. Bahkan di awal badai moneter tahun 1996 Indonesia sudah siap merancang bangun N2130 sebuah pesawat berbadan lebar pertama Indonesia. Pesawat ini mampu membawa penumpang sebanyak 130 penumpang atau setara dengan Air bus-320.




Bahkan proyek ini sudah di umumkan Presiden Suharto sebagai Proyek nasional. Proyek ini di sinyalir mampu menggetarkan dan membuat ketakutan negara-negara maju yang mampu memproduksi pesawat. Apalagi dengan sekelas Boeing-373 atau sekelas Airbus-320, N2130 akan di jual dengan harga di bawah harga pabrikan pesawat Amerika dan Eropa.

Baca juga Artikel berikut:
Nurtanio Bapak pesawat terbang Indonesia

Di sisi lain dengan kehadiran N2130, maka dominasi Amerika dan Eropa sebagai produsen pesawat dunia akan tumbang. Maka dengan berbagai cara dan berbagai trik, N2130 di hambat untuk mengangkasa. IMF sebagai wakil dan corong orang-orang Barat memberikan pinjaman dengan syarat yang aneh dan tidak masuk akal. IMF akan memberikan suntikan atau pinjaman kepada Indonesia agar terlepas dari krisis dengan syarat IPTN dan program N2130 nya di hentikan.

Akhirnya IMF dan program N2130 di hentikan bahkan Kegiatan IPTN bubar, Ribuan Karyawan di PHK, sisanya para mekanik dan insinyur senior lari mencari pekerjaan keluar negeri. Kejadian ini sempat menggoyahkan perekonomian Indonesia Banyak Pesanan pesawat dari luar di batalkan Karena Indonesia tidak mampu membuat 50% biaya sendiri.

Artikel berikut mungkin penting juga untuk Anda: Sejarah penerbangan di Indonesia

Harapan baru muncul dari N219, Kenapa tidak meneruskan N2130 saja yang pernah memiliki konsep yang matang?. Tentu pemerintah memiliki strategi sendiri, Membuat pesawat bukan hanya berhubungan dengan tekhnologi saja, akan tetapi ekonomi, politik dan pertahanan ikut terlibat. Seumpama sedang berburu N219 adalah peluru yang di tembakan dari senapan yang memiliki peredam suara, dimana buruan yang lain tidak akan lari tunggang langgang dengan suara letusannya. Sementara N2130 adalah peluru kaliber besar yang di tembakan dari senapan yang tidak berperedam.

Andai saja proyek N2130 terus di lanjutkan, maka tidak menutup kemungkinan krisis moneter berikutnya akan kembali terjadi. Namun yang harus kita Tahu, para ahli dan dan pengambil keputusan penting di team N219 adalah mereka yang pernah terlibat di N2130. Bahkan mereka yang lari keluar negeri sekarang sudah kembali dan bergabung di N219.


Lalu kapan N219 ini akan terbang dan mengudara membelah angkasa Indonesia?  Budi Santoso (dirut PT.DI) menjelaskan, “N219 sebenarnya kapanpun sudah bisa terbang akan tetapi masalah sertifikasi dan administrasi untuk terbang belum selesai di urus” .

Di perkirakan N219 akan mengudara untuk pertama kalinya sekitar pertengan atau bahkan akhir 2017. Masyarakat juga perlu mengerti bahwa menerbangkan Peswat N219 tidak sama dengan menerbangkan Drone atau mainan anak-anak atau layangan. Menerbangakan N219 penuh resiko dan menyangkut harkat martabat bangsa indonesia. Siapa yang mesti bertanggung jawab terhadap penerbangan perdan tersebut? langkah apa yang harus di ambil jika penerbangan tersebut gagal?Tentu pemerintah dan rakyat indonesia tidak mau di rugikan dengan gagal mengudaranya N219. Oleh karena itu persyartan super ketat dikenakan kepada N219.

Kita Selalu berharap yang terbaik Untuk kemajuan bangsa Indonesia ini. Kita juga tidak ingin melihat bangsa lain menghambat kemajuan bangsa kita. untuk itu tentu butuh strategi dan pendekatan yang halus kepada semua pihak yang terkait. Terutama para pesaing PT.DI.

Tersimpan di Cabin news, Domestik Dengan label: , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*